Call me Mizu, Mijuh, Mira (if you are ma real world friend). Indonesian, 22 years old. . RP-er . Ryokubita's admin . Fangirl . internet addict . love cupcakes so damn much . charas list : http://tinyurl.com/3vvkcvd

 

Awoken

Disclaimer : Hidekaz Himaruya untuk karakter Japan (Honda Kiku). Elrica von Freistch milik midnightstar69. Adam Marshall milik gue. Dan AniHogwarts.

Rating : M-Gore. Yang lain aman.

Note : Don’t like, don’t read. Hanya fic abalan. Iya, pede banget gue ikutan challenge fic sama anak-anak AH di Plurk orz. Ditambah, gue gak kreatif kalau buat fic.

………………………………………………………………………………………….

“Museum yang indah.” 

Adam yang sedang berada di ruang bawah tanah museum keluarganya harus menoleh ke arah sumber suara yang fasih dengan bahasa Jepang. Tercengang. Dengan pakaian hakama hitam lengkap dan katana yang tersampir di pinggang kiri lelaki yang tidak ia kenal.

Mata semerah darah. Rambutnya hitam seperti dirinya. Tersenyum sinis. Mendekatinya dengan langkah pelan yang teratur, tangan kanannya siap untuk mengeluarkan katana dari bungkusnya untuk menebas dirinya yang tidak tahu harus berbuat apa jika dalam kondisi mendadak diserang oleh orang yang tidak dikenalnya.

Atau dia saja yang lupa?

***

“Ini namanya Honda Kiku. Kau tahu siapa dia, nak?” menunjuk pada album foto yang sudah dimakan usia. Lapuk, menguning dengan kumpulan foto hitam putih.

Adam menggeleng tidak tahu pada bundanya.

“Dia kakekmu. Masih memiliki keturunan klan samurai dan termasuk pejuang di zaman perang dunia dulu,” jelas sang ibu kandung pada sang anak yang masih berusia delapan tahun. Ini pertama kalinya dia melihat wajah kakeknya yang segaris mirip dengannya. Bedanya, Adam memiliki warna mata dari ayahnya yang asli orang Eropa. Yang ini coklat terang, seperti bunda dan dua adik kembarnya.

“Lalu yang ini siapa, bunda?”

Sebuah dokumen foto dimana seorang pemuda sedang melayangkan sebuah katana yang tajam pada musuh yang sudah sekarat. Berbeda dengan foto Honda Kiku lainnya, yang ini warna matanya merah. Berpakaian seragam militer hitam yang terlihat banyak noda hitam, bisa diyakini kalau noda tersebut adalah noda darah.

“Sama. Kakekmu, Honda Kiku. Dia memang memiliki dua kepribadian.”

***

Dia ingat sekarang.

Tidak mungkin seorang Honda Kiku berada disini. Di tahun dimana semua perang tidak ada lagi. Ini tahunnya, tahun sang kakek sudah terlewati dengan banyak korban meninggal dan ledakan dimana-mana.

TRANG.

“Kau tidak akan bisa langsung membunuhku, Kiku-sama,” sebuah pedang peninggalan keluarganya melayang dan menahan katana yang baru saja ingin menebas kepalanya. Beruntunglah pemuda lulusan Ravenclaw dari Hogwarts dua tahun yang lalu ini pernah belajar singkat menggunakan pedang dengan ayahnya.

“Ah, kau mahir juga.” 

Adam membenci orang yang tertawa meremehkannya. Contohnya ada dihadapannya, tatapan membunuh pun sangat tidak ia sukai. Lalu tujuan Honda Kiku ini membunuhnya—,

—untuk apa?

“AGH!”

Mata katana milik kakeknya itu baru saja menusuk bahu kirinya. Pemuda ini meringis kesakitan, tangannya yang bebas mencoba menekan lukanya yang dalam, dan tangan lainnya yang menggenggam erat pedangnya harus dipaksakan agar melawan katana yang kembali melayang padanya. Adam selalu mundur, dia harus maju, karena kau maju itu tandanya kau tidak mau terkalahkan oleh musuh yang lebih kuat darimu.

***

“MAJU ADAM! JANGAN MUNDUR TERUS JIKA SEDANG BERTARUNG!”

Ini bukan minatnya untuk belajar bertarung dengan pedang oleh ayahnya. Ini paksaan. Mau tak mau dia harus menurut atas ajakan papanya yang berwatak keras. Kalau dia menolak, entah bagaimana sikap pemuda dewasa tersebut padanya nanti?

Dia pernah diacuhkan oleh papanya karena masuk Hogwarts selama dua tahun. Beliau ingin Adam bisa meneruskan jejak keluarganya yang dulu sebagai pemimpin Perang Salib untuk bersekolah di militer dari usia dininya.

“JANGAN JADI LELAKI TAKUT MATI!”

***

“Tidak memakai sihir, eh, cucuku?”

Dia tahu.

“Aku tidak akan menggunakan tongkat sihirku kalau musuhku memakai senjata yang lemah dari sebuah mantra mematikan, Kiku-sama,” ucapnya dengan menahan rasa sakit, jaraknya dengan kakek dari dunia lain ini cukup jauh. Mungkin, orang tersebut ingin memberikan sedikit napas dan tenaga pada pemuda berkepala dua tersebut yang lengan bajunya sudah berceceran dengan darah yang kental.

Bau anyir dan karat bercampur di ruangan lembab bawah tanah.

Pedang dan katana itu beda. Yang satu memiliki tubuh besi tajam yang gemuk dan satu lagi ramping. Sama-sama memiliki ketajaman yang bisa membunuh orang dengan sekali hujaman ke arah jantung manusia atau memenggal kepala.

“Pemikiran yang bagus, Adam. Kita sama-sama kuat kalau begitu,” terkekeh santai menanggapi jawaban cucunya.

“Hh? Sama-sama kuat? Kau yang lemah, Kiku-sama,” dengan keadaan terluka dibahunya, Adam maju untuk berlari kencang, kedua tangannya melayangkan ujung pedangnya ke arah tubuh depan Honda Kiku. Menghasilkan goresan panjang yang merobek hakama hitam tersebut. Cairan darah lainnya keluar dari medianya.

“Kau meleng, Kiku-sama.”

Bukan mengerang kesakitan, pemuda dewasa itu memberikan gelak tawanya. Seakan rasa sakit tersebut hanyalah sebuah gelitikan di perutnya. Lalu kembali terdiam, wajah yang serius dan tatapan dingin kembali menguasai si pemilik mata merah darah tersebut yang keji. Dia merasakan kalau gejolak sang cucunya itu sudah terbakar, ingin melawannya sampai mati.

.

.

.

“Kuso!”

Umpatan keluar dari mulutnya. Dia terjatuh dengan pedangnya yang terlepas dari genggaman tangannya. Matanya menyipit, menatap tajam pada sang musuh yang kini menginjak telapak tangannya dengan kuat. Adam mengerang kesakitan, ditambah dengan perlakuan Kiku-sama yang menggoreskan luka berbentuk zig-zag pada lengan pemuda yang mulai memucat.

Rasa sakit memang tidak seberapa di sekujur tubuhnya. Dua puluh menit bertarung disini, menghasilkan kedua manusia ini berlumuran darah. Adam akan lebih merasakan sakit jika dia mati. Bagaimana dengan keluarganya? Bagaimana dengan tunangannya, Elrica? Bagaimana janjinya dia pada tunangannya agar selalu menjaga dan berada disampingnya? Pikirannya berkecamuk dalam otaknya yang sedang dilanda emosi agar bisa menghabiskan nyawa musuh satu ini.

Honda Kiku yang darahnya mengalir di tubuh Adam Marshall.

“Ada kalimat terakhir yang mau kau sampaikan, Adam?” ujung mata katana sudah mendekati leher Adam yang jenjang. Nyawanya sudah dipehujung maut. Tinggal malaikat pencabut nyawa menjetikan jemari padanya.

“Bukan kalimat, tetapi sebuah pertanyaan.”

Sebelah alisnya naik. Gesturenya mempersilakan Adam untuk bertanya.

“Tujuanmu apa membunuh—AGH!” Kiku sengaja memberikan goresan kecil di leher cucunya.

“Ssst, Adam. Tujuanku hanya satu, aku ingin hidup kembali. Kau mirip denganku, dari wajah dan semuanya. Sayangnya, kau tidak memiliki berkepribadian dua sepertiku,” dua bahunya bergetar, menahan tawa sinisnya dan kepuasan tersendiri melihat seorang terluka dan kesakitan seperti manusia yang tak berdaya satu ini.

“Breng—!!”

Erangan kesakitan terdengar lebih keras lagi. Kiku menyayat dalam bibir tipis Adam hingga dagunya. Ceceran darah keluar deras hingga masuk ke dalam mulut pemuda Asia ini. Dia bisa merasakan dan menelan darahnya sendiri, rasanya membuat dia harus mengernyit dicampur rasa sakit yang luar biasa.

“Itu hukumanmu karena berkata kasar pada kakekmu sendiri, Adam,” telunjuknya mencolek darah yang berada di ujung katana, menjilat dan merasakannya. Ada guratan senyuman yang mengerikan dari wajah Kiku bermata merah tersebut. Menyukai darah sang cucunya.

“Sayonara.”

JLEB.

***

Kalau itu bukan mimpi, pemuda berambut hitam yang terbangun dengan napas yang naik turun ini sudah di alam keduanya. Nirwana. Mati ditusuk di tepat jantungnya. Tenang, tidak merasakan kesakitan lagi karena malaikat pencabut nyawa sudah membebaskan rasa sakit yang di deritanya selama melawan Honda Kiku.

Kedua matanya mengerjap kuat, pandangannya berada di langit yang luas dengan awan lebar di musim panas di Hyde Park.

“Adam? You okay?”

Astaga. Dia baru teringat kalau sedari tadi dia tertidur di paha tunangannya, merebahkan tubuhnya di sebuah kursi kayu panjang. Dengan alasan, dia lelah karena kemarin malam dia baru saja tiba di London dari Jepang mengurusi perkebunan teh hijau dan beberapa lainnya, urusan keluarga.

“Aku baru saja bermimpi buruk,” senyum tipisnya ia lemparkan pada wajah gadisnya yang tampak khawatir sambil menyeka peluh sang pemuda di lehernya. “Kau kelelahan, Adam. Mau pulang?” ajak Elrica, mengecup singkat bibir Adam dan mengusap kedua pipinya. Pemuda berpakaian kasual ini bangkit untuk duduk, ia bisa lega kalau itu hanyalah mimpi. Dia tidak mau kalau kedua matanya ini tidak bisa melihat wajah sang calon istrinya yang begitu sempurna dengan kedua matanya yang hijau terang, sangat cantik.

“Boleh,” senyumnya dan berdiri, tangannya terulur pada Elrica. Mereka mengaitkan jemari dengan erat, Adam bisa merasakan kehangatan yang tidak akan pernah ia rasakan di dalam mimpi buruknya.

***

“Hei, Adam Luke Marshall. Finally, I found you.”

Ada yang mengawasi daritadi setelah kedua pasangan tersebut ber-disapparate pulang dari sini.

Bermata merah. Tersenyum keji dengan otak yang sedang merencanakan kejahatan yang sedang ia persiapkan. 

  1. summercupcakes posted this